QIRA’AT AL-QUR’AN
Makalah studi al-Qur’an
Disusun oleh : Faisal Hamdan Fuadi
NIM : B95219098
Dosen :
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati' Nursyafa'ah, M.Kom.I
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang paling indah selain Puja dan Puji syukur saya panjatkan selalu kehadirat Allah SWT. Karena berkat limpahan rahmat, taufik, hidayat serta inayah-Nya, saya bisa menyelesaikan tugas penyusunan Makalah Studi Qur’an dengan judul Qira’at al-Qur’an.
Saya selaku penyusun makalah bagaimanapun tidak bisa memendam ucapan terimakasih kepada Bapak Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M.ag. Selaku dosen mata kuliah Studi Qur’an yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.
Dalam makalah Studi Qur’an dengan judul Qira’at al-Qur’an ini, saya akan membahas tentang pendapat-pendapat bacaan al-Qur’an, tujuh bacaaan standart al-Qur’an serta Sejarah Ilmu Tajwid.
Tak ada gading yang retak, begitulah adanya makalah ini masih jauh dari sempurna. Dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik sangat saya harapkan daro para pembaca demi perbaikan dan kualitas penyusunan makalah dimasa yang akan datang.
Dan saya berharap, makalah ini dapat memberikan sebuah manfaat bagi saya dan para pembaca dimasa yang akan datang.
Surabaya, 21 Agustus 2019
|
Faisal Hamdan Fuadi
|
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................ 4
BAB I ................................................................................ 5
A.
Pengertian Qira’at dan Perbedaannya dengan Riwayat
dan Tariqah 5
B.
Pendapat-pendapat
tentang bacaan Al-Qur’an...... 6
C.
Popuslaritas
Tujuh Imam Qira’at........................... 9
D.
Pembagian Qira’at dan macam-macamnya.......... 12
BAB II............................................................................. 15
A.
Sejarah Ilmu
Tajwid............................................. 15
B.
Hukum
Mempelajari Ilmu Tajwid........................ 17
C.
Manfaat
Mempelajari Ilmu Tajwid....................... 18
D.
Kesalahan-kesalahan
dalam Membaca Al-Qur’an 19
BAB III............................................................................ 21
Kesimpulan....................................................................... 21
DAFTAR
PUSTAKA...................................................... 22
BAB I
A. Pengertian Qira’at dan Perbedaannya dengan Riwayat dan Tariqah
Menurut bahasa, qira’at adalah jama’ dari kata qira’at dan merupakan isim masdar dari kata qara’a , yang berarti bacaan . Dengan demikian qira’at adalah bacaan atau cara membaca.
Menurut istilah, pengertian qira’at difahami oleh ulama’ secara beragam, Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai oleh ulama tersebut.
Menurut az-Zarqani, yang dimaksud dengan qira’at adalah suatu madzhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan Al-Qur’an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.
Sementara az-Zarkashi mengemukakan bahwa perbedaan qira’at itu meliputi perbedaan lafaz-lafaz tashdid dan lain-lainnya. Menurutnya qira’at harus melalui talaqqi dan mushafahah, karena dalam qira’ah banyak hal tidak bisa dibaca kecuali dengan mendengar langsung dari seorang guru dan bertatap muka. [1]
Dari beberapa definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa qira’at itu adalah ilmu tentang cara membaca al-Qur’an yang dipilih oleh salah seorang ahli atau imam qira’at, berbeda dengan cara ulama lain berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih sanadnya dan selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta sesuai dengan bacaan yang terdapat pada salah satu mushaf al-Qur’an.
B. Pendapat-pendapat tentang bacaan al-Qur’an
Umar bin Khattab RA bercerita, “Aku pernah bertemu Hisyam bin Hakim bin Hizam yang sedang membaca surat al-Furqan semasa Rasulullah SAW masih hidup. Aku mendengarkan bacaannya . Tiba-tiba, ia membaca banyak huruf yang belum pernah dibacakan oleh Rasulullah SAW kepadaku. Hampir saja aku menyergapnya saat ia sedang shalat.
Lalu, aku menuggunya hingga ia mengucapkan salam. Begitu ia usai mengucapkan salam, aku menarik gamis dilehernya. “siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu? Aku pernah mendengarkan surat yang baru kamu baca tadi.”, kataku. Ia menjawab, “Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku”. Aku menyanggah, “Kamu berdusta. Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah SAW benar-benar telah mengajarkan bacaan surat yang baru kamu baca tadi kepadaku”.
Akhirnya, aku menggandengnya pergi menghadap Rasulullah SAW. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah mendengarkan orang ini membaca surat al-Furqan dengan huruf-huruf yang belum pernah anda bacakan kepadaku, sementara Anda pernah membacakan kepadaku surat al-Furqan dengan huruf-huruf yang lain”. “Lepaskanlah dia, wahai ‘Umar,” kata Nabi SAW, “Bacalah wahai Hisyam”. Dihadapan Nabi SAW, Hisyam membaca surat yang telah aku dengarkan. Nabi SAW berkata, “Begitulah surat al-Furqan diturunkan”. Setelah itu Nabi SAW berkata kepadaku, “Bacalah, wahai ‘Umar”.
Aku pun membaca surat al-Furqan yang pernah dibacakan Nabi SAW kepadaku. Kata Nabi SAW, “Begitu juga surat al-Furqan diturunkan”. Akhirnya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya al-Qur’an telah diturunkan dengan tujuh huruf. Karenanya, bacalah apa yang mudah darinya” (Al-Turmudzi, 2005: IV: 433-434: No.2952; al-Nasa’I,2005: I: 161: No.932; Malik bin Anas, t.t.: I: 206: Bab Ma Ja’a fi al-Qur’an).[2]
Hadits diatas menunjukan kepada kita semua bahwa cara membaca al-Qur’an itu bisa dibaca dengan berbagai macam bacaan. Karena jika cara membaca al-Qur’an itu sendiri kompak diseragamkan dengan satu cara bacaan, tentunya akan membuat banyak orang kesulitan dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an itu.
Dengan adanya perbedaan cara membaca al-Qur’an memudahkan seluruh umat muslim di dunia, baik itu dari kalangan anak-anak, dewasa, orang tua, nenek-nenek, kakek-kakek bahkan orang yang mempunyai kelainan buta huruf sekalipun.
Dalam mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada para sahabat, Nabi muhammad SAW membawakan bacaan sesuai logat sahabat yang berasal dari daerahnya masing-masing. Tentu hal ini memudahkan para sahabat dalam membaca al-Quran meskipun bacaan antara satu sahabat dengan sahabat yang lainnya itu berbeda. Meskipun itu, para sahabat tidak memperdebatkan cara membaca al-Qur’an satu sama lain selagi bacaaan itu tidak mengubah arti dari ayat al-Qur’an.
C. Popularitas Tujuh Imam Qira’at
Imam atau guru qiraat itu cukup banyak jumlahnya, namun yang populer hanya tujuh orang. Qiraat tujuh orang ini adalah yang telah disepakati. Akan tetapi disamping itu para ulama memilih tiga orang imam qira’at yang qira’atnya dipandang sahih dan mutawatir. Mereka adalah Abu Ja’far Yazin bin Qa’qa’ al-Madani, Ya’qub bin Ishaq al-Hadrami dan Khalaf bin Hisyam. Ketiga imam ini beserta ketujuh imam Qira’at Sab’ah adalah dikenal sebagai imam qira’at [3].
Pemilihan para ahli qira’at ini dilakukan oleh para ulama terkemudian pada abad ketiga Hijri. Bila tidak demikian, maka sebenarnya para imam yang dapat dipertanggung jawabkan ilmunya itu cukup banyak jumlahnya.
Sebab-sebab mengapa hanya tujuh imam qira’at saja yang masyhur padahal masih banyak imam-imam qira’at lain yang lebih tinggi kedudukannya atau setingkat dengan mereka dan jumlahnya pun lebih dari tujuh, ialah karena sangat banyaknya jumlah periwayat qira’at mereka.
Langkah yang ditempuh gemerasi penerus ini adalah memperhatikan siapa dari ahli qira’at itu yang lebih populer kredibilitas dan amanahnya, lamanya waktu dalam menekuni qira’at dan adnya kesepakatan untuk diambil serta dikembangkan qira’atnya. Kemudian dari setiap negeri diambilah seorang imam. Hal ini dilakukan supaya umat muslim didunia dimanapun itu berada tidak ada kesulitan dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an dan memudahkan membaca sesuai jenis bacaan yang mereka bisa.
Ketujuh imam qira’at yang masyhur dan disebutkan secara khusus oleh Abu Bakar bin Mujahid karena menurutnya, mereka adalah ulama yang terkenal hafalan, ketelitian dan cukup lama menekuni dunia qira’at serat telah disepakati untuk diambil dan dikembangkan qira’atnya, adalah [4]:
1. Abu ‘Amr bin ‘Ala’. Seorang guru besar perawi. Nama lengkapnya adalah Zabban bin ‘Ala’ bin ‘Ammar al-Mazini al-Basri. Beliau wafat di Kufah pada 154 H. Dan dua orang perawinya adalah ad-Dauri dan as-Susi.
2. Ibn Kasir. Nama lengkapnya ‘Abdullah bin Kasir al-Makki. Ia termasuk salah seorang tabi’in dan wafat dimekah pada 120 H. Dua orang perawinya ialah al-Bazi dan Qunbul.
3. Nafi’ al-Madani. Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Nu’aim al-Laisi, berasal dari Isfahan dan wafat di Medinah pada 169 H. Dua orang perawinya ialah Qalun dan Warasy.
4. Ibn ‘Amir asy-Syami. Nama lengkap beliau adalah ‘Abdullah bin ‘Amir al-Yashubi, seorang qadi (hakim) di Damaskus pada masa pemerintahan Walid bin ‘Abdul Malik. Nama panggilannya adalah Abu ‘Imran, ia termasuk seorang tabi’in. Wafat di Damaskus pada 118 H. Dua orang perawinya adalah Hisyam dan Ibn Zakwan.
5. ‘Asim al-Kufi. Ia adalah ‘Asim bin Abu Najud dan dinamakan pula Ibn Bahdalah, Abu bakar. Ia termasuk seorang tabi’in dan wafat di Kufah pada 128 H. Dua orang perawinya adalah Syu’bah dan Hafs.
6. Hamzah al-Kufi. Ia adlah Hamzah bin Habib bin ‘Imarah az-Zayyat al-Fardi at-Taimi. Beliau wafat di Halwan pada masa pemerintahan Abu Ja’far al- Mansur tahun 156 H. Dua orang perawinya adalah Khalaf dan Khalad.
7.Aal-Kisa’i al-Kufi. Ia adalah ‘Ali bin Hamzah, seorang imam ilmu Nahwu di Kufah. Dinamakan al-Kisa’I karena ia memakai “kisa” disaat ihram. Ia wafat di Barnawabaih, sebuah perkampungan di Ray, dalam perjalanaa menuju Khurasan bernama ar-Rasyid pada 189 H. Dua orang perawinya ialah Abdul Haris dan Hafs ad-Dauri.
D. Pembagian qira’at dan macam-macamnya
1. Qira’at Mutawattir
Qira’at Mutawattir adalah Qira’at yang diriwayatkan oleh banyak orang yang tidak mungkin terjadi kesepakatan diantara mereka untuk berbuat kebohongan. Contoh dari Qira’at Mutawattir ini adalah Imam Qira’atus-Sab’ah yang telah disepakati siapa perawinya.
2. Qira’at Mashhur
Qira’at Mashhur adalah qira’at yang sanadnya tersambung ke Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh beberapa orang yang kuat hafalannya serta adil pula. Qira’at ini sesuai dengan salah satu rasam Uthmani. Namun derajatnya tidak sampai kepada derajat Mutawattir. Misalnya qira’at yang diperdebatkan siapa yang menjadi perawinya, dimana disatu sisi ada yang mengatakan perawinya dari salah satu imam Qira’atus-Sab’ah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.
Kedua macam qira’at ini, yaitu qira’at Mutawattir dan qira’at Mashhur dapat dipakai untuk membaca al-Qur’an, baik didalam shalat maupun diluar shalat. Juga wajib meyakini ke-Qur’anannya serta tidak boleh meragukannya sedikitpun.
3. Qira’at Ahad
Qira’at Ahad adlah qira’at yang sanadnya bersih dari kata cacat. Hanya saja cara membacanya menyalahi rasam Uthmani dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab. Jenis qira’at ini tidak boleh dipakai untuk membaca Al-Qur’an dan tidak wajib meyakininya sebagai al-Qur’an. Qira’at ini juga tidak terkenal dikalangan imam-imam qira’at.
4. Qira’at Shaz
Berbeda dengan jenis qira’at yang lain, qira’at Shaz ini memiliki sanad yang cacat serta tidak bersambung sampai ke Rasulullah SAW. Tentu saja qira’at ini tidak boleh dibaca dilam maupun diluar shalat.
5. Qira’at Mawdu’
Qira’at Mawdu’ ialah qira’at yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa mempunyai dasar periwayatan sama sekali.
6. Qira’at Shabih bi al-Mudraj
Qira’at Shabih bi al-Mudraj adalah qirat’at yang menyerupai kelompok Mudraj dalam hadits, yakni qira’at yang telah memperoleh tambahan kalimat yang merupakan tafsir dari ayat tersebut.
Dari keenam macam jenis qira’at yang telah disebutkan tadi, hanya dua jenis qira’at yang bisa dipakai untuk membaca al-Qur’an didalam maupun diluar shalat, yaitu qira’at Mutawattir dan Mashhur saja. Sisanya tidak diperbolehkan untuk membaca al-Qur’an karena hakikatnya ia bukanlah al-Qur’an.
BAB II
A. Sejarah Ilmu Tajwid
1. Pengertian
Sebelum ke pembahasan mengenai sejarah ilmu tajwid maka kita perlu mengetahui apa itu pengertian tajwid . Tajwid berasal dari kata bahasa arab yaitu جوّد- يجوّد – تجويدًا mengikuti wajan taf’iil yang berarti membuat sesuatu menjadi lebih bagus.
Menurut beberapa buku Tajwid disebutkan bahwa istilah kata ini bermula disaat ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, Khalifah ke-empat mengenai salah satu ayat yang berbunyi:
ورتّل القرآن ترتيلا……..
Beliaupun menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil disini adalah :
“ تجويد الحروف ومعرفة الوقوف ”
Artinya, membaca huruf-hurufnya dengan bagus yakni sesuai makhraj huruf dan shifat serta mengetahui tempat-tempat waqaf. Hanya saja, selama ini belum ada musnad yang merujuk tentang perkataan beliau tadi. Dan kisah ini hanya terdapat pada kitab tajwid. Namun, para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan tartil ini adalah Tajwiidul huruuf wa ma’rifatul wuquuf.
Pendapat sebagaian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama. sebagaimana yang dikutip Hasanuddin AF.
Secara bahasa, tajwid berarti التّحسن ( at-Tahsin ) atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.
Sedangkan menurut pendapat ulama yang lain ada yang mengakatakan sebagai berikut :
“Tajwid ialah mengucapkan huruf (al-Quran) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya sesempurna mungkin tanpa berlebihan ataupun dibuat-buat”.
Sejarah awal mula ilmu tajwid ini bermula sejak al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ini karena Rasulullah SAW sendiri pernah diperintahkan untuk mambaca al-Qur’an dengan tajwid dan tartil seperti yang disebutkan dalam surat al-Muzammil ayat 4, Yang berbunyi:
ورتّل القرآن ترتيلا……..
“ …..Bacalah al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan).[6]
Kemudian Rasulullah SAW pun mengajarkan ayat ini kepada sahabat dengan perlahan-lahan. Tentu saja hal ini menunjukan bahwa pembacaan al-Qur’an itu bersumber dari bacaan dan sebutan Rasulullah SAW. Bukan melalui hasil ijtima’ (fatwa) para ulama yang diambil berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah.
B. Hukum mempelajari Ilmu Tajwid
Hukum mempelajari Ilmu Tajwid secara teori adalah fardu kifayah, yang berarti tidak diwajibkan untuk dipelajari oleh semua orang, melainkan bisa diwakili atau hanya dipelajari oleh beberapa orang saja. Artinya, bila sebagian orang dari suatu kaum telah mempelajarinya maka gugur atas kewajiban bagi yang lainnya.
Sedangkan hukum untuk mengamalkannya itu adalah fardu ‘ain, yaitu wajib untuk dilaksanakan atau digunakan oleh seseorang. bilamana dia membaca al-Qur’an maka harus senantiasa membacanya dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmj tajwid.
Nabi Muhammad SAW bersabda :
خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه
“ Sebaik-baiknya kamu sekalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an “.( HR. Bukhari )
Didalam hadits diatas dijelaskan bahwa mereka yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an disebut Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya orang islam.Tentu saja maksud dan arti dari hadits diatas mengandung banyak makna. Namun, salah satu yang harus digaris bawahi adalah mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an dibidang bacaan. Yakni mempelajari atau mengajarkan dengan baik dan benar sesuai kaidah-kaidah Ilmu Tajwid.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa belajar atau mengaji (al-Qur’an) itu harus melalui musyafahah, yaitu ada kontak langsung dengan orang yang mengajarkan kita yakni seorang guru. Alasannya adalah seorang murid yang berguru akan memilki sanad/silsilah keguruan yang menyambung sampai kepada Rasulullah SAW. Alasan yang lainnya adalah jika seorang murid itu melakukan kesalahan dalam membaca, yang mana bacaan itu diluar kemampuannya maka akan ada orang yang membetulkan atau membenarkannya, yaitu seorang guru.
C. Manfaat mempelajari Ilmu Tajwid
Manfaat bagi orang yang mempelajari ilmu tajwid adalah terhindar lisan dari kekeliruan dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an. Selain itu dengan menerapkan ilmu tajwid maka janji Allah SWT untuk mereka yang membaca al-Qur’an akan diberikan.
Manfaat lainnya yang akan didapat dari belajar ilmu tajwid adalah menghindarkan lisan dari gagap (cadel) saat melafalkan ayat-ayat al-Qur’an. Perkecualian bagi mereka yang memang sudah gagap (cadel) dari awal, dalam artian bawaan sejak lahir. Bagi mereka ada pahala yang berlipat, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
الماهر بالقرآن مع السّفرة الكرام البررة والّذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه فيه شاقّ له أجران ( رواه مسلم )
“ Orang yang pandai membaca al-Qur’an bersama as-safarah al-kiram al-bararah (para malaikat yang mulia), dan orang yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata (kurang fasih bacaannya karena berat lidahnya dan sulit untuk membetulkan), maka ia mendapatkan dua pahala. (HR. Muslim).
D. Kesalahan-kesalahan dalam membaca al-Qur’an
Didalam membaca ayat-ayat suci al-Qur’an tentunya tidak semua orang bisa membaca dengan benar sebagaimana mestinya menurut ilmu tajwid. Didalam hal ini, kesalahan dalam membaca al-Qur’an terdapat dua jenis kesalahan, yaitu :
1. Lahnu Jali’. Kesalahan yang tampak, yaitu kesalahan dalam membaca lafadz-lafadz al-Qur’an yang menyalahi kaidah bahasa Arab sehingga menimbulkan atau menyebabkan perubahan makna. Kesalahan ini terjadi karena pengubahan huruf, misalkan mengubah huruf د (Dal) dengan ذ (Dza). Atau mengubah harakat. Misalkan yang seharusnya kasrah diubah menjadi fatah. Dalam hal ini para ulama sepakat bahwa huku mengenai kesalahan ini adalah haram.
2. Lahnu Khafi. Kesalahan dalam membaca al-Qur’an yang menyalahi kaidah ilmu tajwid. Adapun hukum mengenai kesalahan ini, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan makruh ada pula yang mengakatan haram.[7]
Tentunya dalam menyikapi terhadap kedua masalah ini sebaiknya kita hendak mempelajari ilmu tajwid kepada seorang guru. Karena dengan belajar, ilmu kita akan bertambah dan kita bisa mengetahui cara membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah bahasa Arab dan kaidah tajwid pula. Jika telah mepelajari ilmu tajwid kita akan lebih berhati-hati dalam membaca ayat-ayat suci al-Qur’an sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam membaca al-Qur’an.
BAB III
Kesimpulan
Menurut bahasa, qira’at adalah jama’ dari kata qira’at dan merupakan isim masdar dari kata qara’a , yang berarti bacaan . Dengan demikian qira’at adalah bacaan atau cara membaca. Sedangkan menurut istilah, qira’at adalah ilmu tentang cara membaca al-Qur’an yang dipilih oleh salah seorang ahli qira’at.
Tajwid berasal dari kata bahasa arab yaitu جوّد- يجوّد – تجويدًا mengikuti wajan taf’iil yang berarti membuat sesuatu menjadi lebih bagus.
Hukum mempelajari Ilmu Tajwid secara teori adalah fardu kifayah, yakni bisa diwakilkan oleh orang lain. Sedangkan hukum untuk mengamalkannya itu adalah fardu ‘ain, yaitu wajib untuk dilaksanakan atau digunakan oleh seseorang
Manfaat bagi orang yang mempelajari ilmu tajwid adalah terhindar lisan dari kekeliruan dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an serta janji Allah SWT untuk mereka yang membaca al-Qur’an akan diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Afif, Abdullah. dkk. 2015. Kumpulan tanya jawab keagamaan. Yogyakarta: PUSTAKA ILMU SUNNI SALAFIYAH-KTB. https://books.google.co.id. Diakses 30 Agusutus 2019.
AS, Mudzakir. 2013. Studi ilmu-ilmu al-Qur’an. cetakan XVI. Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa.
Aziz, Moh.Ali. 2018. Mengenal tuntas al-Qur’an. cetakan III. Surabaya: IMTIYAZ.
DH, Achmad Zuhdi. dkk. 2014. Bahan ajar studi al-Qur’an. cetakan IV. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Musyafa’ah, Syauqiyah. dkk. 2013. Studi al-Qur’an. cetakan III. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Nizan, Abu. 2008. Buku pintar al-Qur’an. Jakarta: QultumMedia. https://books.google.co.id. Diakses 1 September 2019.
[1] Achmad Zuhdi DH,dkk,BAHAN AJAR STUDI AL-QUR’AN(Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2014,cetakan IV), hlm307-308.
[3] Mudzakir AS, STUDI ILMU-ILMU QUR”AN (Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2013,cetakan XVI), hlm249.
[4] Mudzakir AS, STUDI ILMU-ILMU QUR”AN (Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2013,cetakan XVI), hlm259-261.
[5] Syauqiyah Musyafa’ah,dkk., STUDI AL-QUR’AN (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2013,cetakan III), hlm 202-204.
[6] Abdullah Afif,dkk., KUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN (Yogyakarta: PUSTAKA ILMU SUNNI SALAFIYAH-KTB, 2015,cetakan I), hlm 121-122 https://books.google.co.id .
[7] Abu Nizan, Buku Pintar Al-Qur’an(Jakarta:QultumMedia, 2008, cetakan I), hlm 14 https://books.google.co.id .

Bagus, menambah wawasan, semoga bermanfaat buat sobat yang membacanya, mungkin ada sedikit pengetikan kata yang belum benar bisa dibenahi.
BalasHapusجيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. أنتظار الورقة التالية ...
BalasHapusMasyaallah sangat bermanfaat makalahnya, menambah wawasan dan sangat membantu saya
BalasHapusalhamdulillah setelah membaca makalah ini wawasan saya bertambah, semoga kedepannya lebih baik lagi. semangat
BalasHapusSubhanallah GG sekali anda sekarang yah.... dulu saya belum bisa baca al-Qur'an, sekarang alhamdulillah dengan adanya makalah ini, saya langsung lancar jaya Qiroat dan Tajwid Al - Qur'an.... terimakasih makalah.....
BalasHapusSemoga bermanfaat dunia akhirat.. Aaminn
BalasHapusSrip bisa nya mobile legend wae
BalasHapusSubhanalloh, terimakasih atas informasinya
BalasHapusTulisannya snagat menginsprirasi banyak orang , terutama orng yang belum faseh membaca alquran . Semoga adanya makalah ini bisa menambah wawasan semua orang.
BalasHapusDan teruslah berkarya yah faisal ganteng :v
Subhanallah barokah sekali ternyata, sekarang keponakan saya yang baru masuk TK langsung faham ilmu Tajwid beserta Qiro'at setelah saya suruh baca makalah diatas... alhamdulillah terimakasih Faisal
BalasHapusMakalah bagus sekali kak,semoga bermanfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pembaca aminnnn
BalasHapusSemoga bermanfaat bagi pembaca dan menjadi aliran pahala bagi penulis
BalasHapusPucuk di cinta ulam pun tiba, lagi susah nyari makalah eh Nemu juga akhirnya, izin share ya 😂😂😎
BalasHapusKalem ngga akan di copy ko😂
"Welcome to Mobile Legend, Five second to the enemy reaches the battlefield, Smash Them !"🤣🤣 Kitu bae ?
BalasHapus
BalasHapusالشُّهُوْرُ الْعَرَبِيَّةُ هِيَ الْمُحَرَّمُ، صَفَرٌ، رَبِيْعٌ اْلأَوَّلُ، رَبِيْعٌ الثَّانِي، جُمَادَى اْلأُوْلَى، جُمَادى الثَّانِيَةُ، رَجَبٌ، شَعْبَانُ، رَمَضَانُ، شَوَّالٌ، ذُوْ الْقَعْدَةِ، ذُوْ الْحِجَّةِ. التدريب : أَيُّ شَهْرٍ بَعْدَ مُحَرَّمٍ ؟ أَيُّ شَهْرٍ قَبْلَ شَوَّالٍ ؟ مَتَى نَحْتَفِلُ السَّنَةَ الْجَدِيْدَةَ لِلْإِسْلاَمِ ؟ مَتَى نَحْتَفِلُ عِيْدَ اْلأَضْحَى ؟ فِيْ أَيِّ شَهْرٍ وُلِدَ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فِي أَيِّ شَهْرٍ يَوْمُ عِيْدِ …
Melak lamun dina meureun hasilna sugan. Itu mungkin yang bisa saya paparkan
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagaimana kiranya ketika kita yang hidup di nusantara ini membaca alquran dgn gaya nusantara itu sendiri, seperti halnya orang jawa membaca alquran dengan langgam jawa ataupun sebagainya?
BalasHapusmasyallah , bagus sekali, banyak pelajaran baru yg bisa saya peroleh. terima kasih.
BalasHapusSubhanallah sangat bermanfaat sekali banyak pengetahuan baru yang bisa di ambil .
BalasHapusTeruslah berkarya Faisal :)
Sukses selalu :):)
Mantap sangat membantu
BalasHapusBagus sekali isi artikelnya kak, semoga bisa manfaat untuk sesama yaa
BalasHapusآمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية
BalasHapusbermanfaat sekali kak artikel ini, semoga kedepannya si penulis dapat lebih berkembang dan baik lagi.
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak
BalasHapusMakalah yang sangat bermanfaat, makasih sudah berbagi ilmu, semoga berkah
BalasHapusSubhanalloh akhi, terimakasih ilmunya, bermanfaat sangat:) semoga antum diberikan kesehatan untuk selalu menebarkan kebaikan:)
BalasHapusAamiin:)
Fighting;)
Masyallah sangat berkesan setelah membaca blog ini semakin menambah wawasan saya, trimakasih
BalasHapussubhanaallah masyaallah makalahnyaa sangat membantuu materinya juugaa mudah diapahami semoga kedepannya makin baik lagi aamiin aamiin
BalasHapuswah alhamdulillah materinya kang faisal kasep pisan makasih kang
BalasHapusalhamdulillah wawasan saya semakin bertambah dengan adanya makalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semuaa yaa
BalasHapusDari pala sampe mata dari mata ke hati, baca blognya kang ical mah edun pisan euy, muwantul
BalasHapusSemoga menjadi ladang pahala bagi penulis karena telah membagi ilmunya melalui artikel ini aamiin
BalasHapusDengan membaca tulisan ini saya mengetahui bahwa membaca al-Qur'an juga harus tahu cara membaca yang benar, tidak asal-asalan. Terima kasih ilmunya!!
BalasHapusMasyaAllah sangat bermanfaat sekali materinya, terimakasih
BalasHapusSubhanallah barokah sekali ternyata, sekarang keponakan saya yang baru masuk TK langsung faham ilmu Tajwid beserta Qiro'at setelah saya suruh baca makalah diatas... alhamdulillah terimakasih Faisal
BalasHapusMaa sya Allah sangat bermanfaat sekali . Menambah dan memperluas wawasan akan Al Qur'an . Semoga bisa lebih baik lagi :)) tetap berkarya dan berkharisma :))
BalasHapusSubhanallah.. Terimakasih atas ilmunya. Mudah2an dari pemaparan tadi bisa meningkatkan semangat melantunkan ayat2 suci al aquran dengan nada yang kita bisa dan dengan bacaan tajwid yang benar.
BalasHapusMantap luar biasa Allohu Akbar, setelah saya membaca ini, saya merasa Luar Binasa
BalasHapusAlhamdilillah bisa menambah wawasan..
BalasHapus
BalasHapusAkhirnya bisa dapat referensi lagi buat makalah saya, semoga penyusun makalah ini mendapatkan ilmu yang bermanfaat aamiin, mantap euy 👍
Alhamdulillah dengan membaca makalah ini memberikan kita tambahan pengetahuan mengenai Al Qur'an
BalasHapus
BalasHapusSemoga ilmu yang diberikan bermanfaat, selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.....
Alhamdulillah sangat bermanfaat, semoga dengan adanya makalah ini bisa memperbaiki anak bangsa
BalasHapus"Qira'at" adalah jama' dari "qira'at" itu dah bner? Dri sumberny? Takutny typo ☺�� trus setau ana tasydid, bukan tashdid ya��
BalasHapusYang selanjutnya, udah bagus��
Maannajah. Sukses ��
Subhanallah setelah saya membaca ini saya bisa terbang ke luar angkasa
BalasHapusMasyaAllah, sangat bermanfaat ilmunya dan berguna bagi kemaslahatan umat. Tetap istiqomah dalam menebar kebaikan
BalasHapusNice, semoga bermanfaat ilmunya tingkatkan terus, lebih banyak lagi penjelasannya. Good luck!!!👍
BalasHapusMasya alloh makalah nyaa sangat bermanfaat sekali, menambah wawasan tentang al quran. Semogaaa kitaaa menjadii ahlul quran .. terimakasih kang faisal atas ilmunya sukses selalu 😊
BalasHapusMasya alloh makalah nyaa sangat bermanfaat sekali, menambah wawasan tentang al quran. Semogaaa kitaaa menjadii ahlul quran .. terimakasih kang faisal atas ilmunya sukses selalu 😊
BalasHapusNiceeeeee sangat bermanfaat, terimakasihh
BalasHapusTerimakasih, menambah wawasan dan smoga bermanfaat untuk kita semua, aamiin
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSemoga ilmunya manfaat, dan membawa berkah bagi pembaca maupun penulis
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat, semangat terus untuk kedepannya.
BalasHapusAlhamdulillah dengan tulisan ini bisa menambah wawasan saya, semoga bermanfaat, terimakasih :)
BalasHapus